”Jangan larang anak-anak bermain Pokemon! Kenapa? Karena di masa depan, bisa jadi mereka menciptakan suatu inovasi buah inspirasi permainan ini. Generasi play station sudah membuktikannya dengan menciptakan teknologi kendali kemudi joystick pada pesawat Airbus. Para pilotnya pun didominasi generasi milenial yang masa kecilnya gemar play station!”

Aisyah Hanifah, Generasi Z yang Inspiratif

Begitu salah satu pesan yang diserukan Rhenald Kasali dalam peluncuran buku terbarunya Disruption. Logika serupa nampaknya diterapkan para orang tua youtuber dan selebgram cilik berikut ini. Karena ponsel pintar tak bisa dilepas dari keseharian generasi Z ini.

Berkunjunglah ke channel YouTube Aisyah Hanifah dan temukan sebuah video story telling-nya saat masih berusia 3 tahun. Seperti anak sudah gede, ia fasih bercerita dengan alat peraga boneka tangan.

Di video lain, kemampuan bercerita bocah 10 tahun ini terlihat kian terasah. Lihat saja bagaimana dia bergaya seperti pembawa acara yang mengulas berbagai permainan untuk anak, menceritakan aktivitasnya, hingga mengajak para pengunjung channel-nya untuk mengikuti kuis suatu produk yang menyasar anak-anak.

”Assalamu alaikum, hai teman-teman, jumpa lagi dengan Aisyah Hanifah. Hari ini aku mau main game. Kira-kira ada game apa saja ya? Yuk kita lihat. Wah, ada game seru nih, namanya Mail Man. Aku mau coba ah. Kayaknya sih tentang nganterin surat gitu,” ucap gadis cilik berkerudung ini, fasih.

Dengan gaya polos khas anak-anak, Aisyah yang subscriber-nya mencapai lebih dari 163 ribu mengaku senang jika video yang dibuatnya seperti di atas mendapat tanggapan baik. ”Senangnya lagi, jadi dapat banyak teman, bisa dikenal orang kalau lagi di luar seperti waktu di mal, toko buku atau tempat jalan-jalan pokoknya deh,” ujar Aisyah dengan senyum lugunya.

Sejurus kemudian ia mengubah mimiknya menjadi cemberut ketika ditanya apa yang membuatnya tak suka. ”Rasanya sebel kalau ada yang berkomentar kasar,” imbuh penggemar channel YouTube Kan and Aki’s Channel dari Jepang, b2cutecupcakes, cookieswirlc serta nauratv ini.

Karena Menyukai

Aisyah bercerita, sudah lama senang menonton berbagai channel anak di YouTube. Menyaksikan karya para idolanya di atas, ia pun ingin membuat tayangan serupa. Segera ia meminta dibuatkan channel pada oragtuanya.

Supaya isi channelnya banyak, Aisyah menurut pada jadwal yang dibuat orangtuanya, menjalani syuting setiap hari Sabtu dan Minggu. Ia menurut pada ibunya yang memilah kostumnya, serta patuh pada ayahnya yang berperan sebagai kamerawan dan editor.

Memangnya Aisyah nggak capek? Kan Senin sampai Jumat sudah sekolah sampai sore. Menjawab tanya demikian, ia langsung menggeleng tegas. ”Soalnya aku juga seneng,” ungkapnya kembali menyunggingkan senyum.

Ia juga senang sekolahnya tak terganggu. ”Karena aku sudah membagi waktu. Lagian walau ayah dan umi tidak membatasi, aku pegang gadget sesuai kebutuhan saja kok,” kata gadis yang bercita-cita menjadi chef, fashion designer dan penghafal quran ini.

Untuk mewujudkan mimpinya itu, Aisyah paham harus belajar serius dan bekerja keras. Karenanya ia senang mengikuti beberapa kursus keterampilan. Senin dan Rabu sore misalnya, ia mengikuti les bahasa Inggris, Selasa sore jadwalnya ekstra kurikuler karate, Kamis sore les piano, sementara Jumat sore ada takhosus (hafalan Alquran) dan les matematika dan IPA.

”Untuk prestasi di sekolah, alhamdulillah Aisyah masuk rangking 2 besar di kelas. Semester  kemarin rangking 1 dan sebelumnya rangking 2. Alhamdulilah lagi, channel Aisyah sudah tembus lebih dari 150 ribu subscriber. Makanya Desember lalu, Aisyah mendapatkan silver play button,” syukur Aisyah senang.*

Teks: Arimbi Tyastuti, Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok.Pri

sumber: wanitaindonesia.co.id